Pentingnya kehidupan demokrasi dalam masyarakat dapat mendukung terciptanya kehidupan bersama yang nyaman. Tidak hanya di masyarakat, demokrasi juga perlu diterapkan dalam lingkungan sekolah. Demokrasi dalam lingkungan sekolah diperlukan guna menunjang proses kegiatan belajar mengajar maupun aktivitas sekolah lainnya agar dapat berjalan dengan lancar. Dalam penerapannya, demokrasi harus dilaksanakan oleh semua elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga staf sekolah. Hal ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan dan meningkatkan pemahaman serta kesadaran atas nilai-nilai demokrasi.
Seperti yang telah terjadi di SMK Negeri 1 Kudus. Kami telah melakukan analisis di SMK 1 Kudus mengenai pelaksanaan demokrasi di lingkungan sekolah. Hasil yang kami dapatkan ialah di sekolah tersebut telah melakukan demokrasi dalam kehidupan sekolah. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan demokrasi yang dilakukan antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan guru, dan yang lainnya.
Berikut adalah penerapan demokrasi dilingkungan sekolah yang terjadi diantara siswa dengan siswa.
1. Tidak melakukan pengekangan terhadap siswa lain dalam suatu perintah, seperti tidak menyuruh-nyuruh teman dengan seenaknya. Biasanya teman yang sudah akrab selayaknya saudara, sering meminta kita melakukan sesuatu. Terkadang dengan embel-embel pertemanan orang bisa berbuat seenaknya. Bayangkan ketika kita baik dengan seseorang secara umum kita memiliki harapan dan ekspektasi ke orang tersebut bahwa setidaknya orang tersebut memperlakukan kita dengan standar yang sama atau membalas kita dengan kebaikan yang sama. Begitu pula dengan teman kita.
2. Saling menghargai dan tidak merendahkan pendapat orang lain.
Menanamkan sikap menghargai orang lain sudah seharusnya dimulai sejak dibangku sekolah, disini peran seorang guru sangat penting untuk mengajarkan muridnya tentang sikap tersebut.Hal ini bisa dimulai dengan hal sepele seperti menghargai jawaban siswa lain, tidak tertawa saat siswa menjawab, dan masih banyak lagi lainnya.
3. Penerapan jadwal piket bergilir
Menerapkan jadwal piket pastinya menjadi suatu pembelajaran yang bagus bagi siswa, di sini dengan adanya jadwal tersebut membuat siswa tahu bahwa setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama.Jadwal piket tidak hanya sebagai sedikit keberhasilan saja namun sikap tersebut bisa berupa piket petugas upacara piket menata kelas dan piket-piket lainnya.
4. Tidak adanya diskriminasi
Sekolah sudah seperti menjadi rumah kedua bagi siswa-siswanya oleh karena itulah menjaga lingkungan sekolah dari hal yang tidak enak seperti diskriminan adalah hal yang penting untuk dilakukan. Seringkali para generasi emas ini merasa terdiskriminasikan karena keterbatasan fisik, ekonomi maupun latar belakang lainnya. Misalnya seorang siswa dari kalangan keluarga yang kurang mampu seringkali di rundung oleh teman-teman sekolahnya karena tidak mempunyai smartphone, tas, ataupun motor yang bagus karena mereka tidak mempunyai uang untuk membelinya. Ataupun si jelek, kerap kali dihina secara sarkasme dengan membandingkan ia dengan sesuatu hal, yang mirisnya, diminati siswa kelas, dan disambut dengan pecah tawa. Padahal perilaku ini bukan hanya diskriminasi, jika dibiarkan begitu saja tanpa ada teguran, siswa akan mengulang ngulang apa yang mereka sampaikan, hingga akhirnya diskriminasi ini berubah menjadi bully. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan fisik dan mental siswa tersebut. Jadi, baik guru maupun siswa bisa berperan aktif agar kondisi sekolah tidak ada yang namanya diskriminasi ataupun pembullyan.
5. Pemilihan ketua osis ataupun ketua kelas
Salah satu penerapan demokrasi di lingkungan sekolah ialah pemilihan ketua kelas, dimana pemilihan tersebut bisa dilakukan secara musyawarah atau voting yang dipimpin oleh seorang guru.Bukan hanya pemilihan ketua kelas saja, namun pemilihan ketua lainnya juga bisa dilakukan secara musyawarah seperti pemilihan ketua OSIS, pengurus kelas, ketua kegiatan, dan lain sebagainya.
Pelaksanaan demokrasi yang terjadi antara siswa dengan guru.
1. Bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahami.
Setiap siswa tentunya memiliki kemampuan menyerap materi pembelajaran yang berbeda. Terkadang terdapat beberapa siswa yang masih kesulitan dalam memahami materi yang diterangkan. Untuk itu, mereka dapat bertanya kepada guru . Serta guru yang ditanya pun dengan senabg hati menjawab pertanyaan tersebut. Adanya interaksi antara guru murid seperti ini membuat suasana kelas menjadi aktif dan seru. Selain itu, hal ini juga akan menumbuhkan semangat belajar dan keberanian siswa.
2. Berdiskusi dalam menentukan kelompok belajar.
Ketika memberikan tugas kelompok kepada siswa, guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk membuat keputusan mengenai anggota dari masing-masing kelompok belajar. Keputusan yang ditawarkan biasanya mengenai bagaimana cara pemilihan kelompok belajar. Apakah akan di pilih sendiri atau dipilih acak oleh guru. Setelah diadakan musyawarah atau voting, barulah setiap kelompok belajar melakukan tugas yang telah ditetapkan oleh guru sebelumnya.
3. Memberi pengajaran yang adil dan maksimal.
Setiap siswa memiliki hak yang sama yakni untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah tentu saja merupakan tempat terbaik bagi siswa untuk belajar dan menimba ilmu. Di sekolah, anak-anak memperoleh pengetahuan yang berbeda dari mata pelajaran yang berbeda, tergantung pada tingkatan sekolah. Siswa berhak dididik oleh guru yang berkualitas untuk menjadi pembelajar yang cerdas. Jika tidak ada guru yang datang, anak berhak bertanya kepada staf atau guru lain untuk meminta guru pengganti jika memungkinkan. Hal ini dilakukan guna memaksimalkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran. Sedangkan guru tau akan kewajibannya dan tidak sewenang-wenang kepada siswa.
4. Komunikasi yang Baik dengan Guru
Proses pembelajaran akan efektif, jika komunikasi dan interaksi antara guru dengan siswa terjadi secara intensif. Guru dapat merancang model model pembelajaran sehingga siswa dapat belajar secara optimal. Guru mempunyai peran ganda dan sangat strategis dalam kaitannya dengan kebutuhan siswa. Peran dimaksudkan adalah guru sebagai guru, guru sebagai orang tua, dan guru sebagai sejawat belajar.
5. Memberi Usul, Saran, dan Pesan kepada Pihak Sekolah.
Siswa merupakan salah satu bagian vital dalam sekolah, oleh karena itu siswa turut serta dalam menyampaikan aspirasinya dalam kegiatan bermusyawarah dengan pihak sekolah untuk membentuk kesepakatan agar sekolah menemui tujuan dan target yang diharapkan siswa dengan guru maupun pihak yang terkait di dalamnya.
Pelaksanaan prinsip Demokrasi antar guru dengan guru
1. Saling bertukar pikiran dan pendapat.
Diperbolehkannya untuk saling bertukar ilmu dan menimba ilmu antar sesama guru satu dengan guru yang lainnya.
2. Saling mendukung dalam profesi sebagai guru.
Saling menghargai dan menghormati satu sama lain sesama profesi guru, dan saling berjabat tangan pada saat bertemu.
Pelaksanaan prinsip Demokrasi antar guru dan kepala sekolah
1. Ikut serta dalam rapat komite
2. Ikut menyampaikan ide, saran, dan kritik kepada kepala sekolah ketika sedang rapat.
Komentar
Posting Komentar